Laman

Kamis, 19 Januari 2012

Manajemen ke Uangan


Ada direktur yang gajinya Rp 85 juta, namun utangnya 60 persen dari jumlah gajinya. Tapi ada karyawan yang gajinya tidak sebesar itu, namun memiliki aset yang nilainya terus meningkat. Bagaimana kita harus mengelola gaji? Inilah tips mengelola gaji yang disampaikan Eko Endarto, financial planner saat berbicara di kantor Redaksi Kompas, Kamis (19/1/2012).
Menurut Eko, seseorang disebut kaya, tidak ditentukan dari jumlah uang yang didapat setiap bulan, tetapi dari bagaimana seseorang mengelola gajinya.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk bisa mengelola gaji dengan benar. Yaitu, konsumsi, utang, investasi, dan proteksi.
– Eko Endarto
“Ada orang yang gajinya tinggi, tapi setiap bulan selalu habis karena ia terlalu konsumtif. Bagaimana seorang direktur bergaji Rp 85 juta, malah duitnya habis untuk bayar utang yang jumlahnya 60 persen dari gajinya? Karena pengeluarannya ada 76 macam. Sang direktur menghabiskan gajinya untuk ikut fitnes, ikut main golf, istrinya sering ke spa dan lainnya,” ungkap Eko Endarto.
Menurut Eko, ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk bisa mengelola gaji dengan benar. Yaitu,  konsumsi, utang, investasi, dan proteksi.
Buatlah prioritas
Dalam hal konsumsi, kata Eko, kita harus membuat prioritas, mulai dari sosial keagamaan, pembayaran cicilan utang, investasi, dan kebutuhan hidup. Dari keempat hal itu, yang tidak terbatas adalah kebutuhan hidup. Karena itu pengeluaran untuk kebutuhan hidup harus dilakukan secara bijak.
Pengeluaran tak ada batasnya, namun pemasukan terbatas. Untuk itulah kita harus bisa menjadikannya wajar dengan mengalokasikan secara tepat.
Pengeluaran untuk sosial keagamaan minimal 2,5 persen, pembayaran cicilan utang maksimal 30 persen, dan untuk investasi minimal 20 persen.  “Utamakankebutuhan daripada keinginan,” ingat Eko.
Bolehkah berutang?
Soal utang, Eko mengingatkan bahwa utang selalu menjadi masalah. Seseorang yang memiliki utang sebenarnya membuat aset yang dibelinya dari hasil utang menjadi tambahan biaya. Seseorang yang memiliki kartu kredit, sebaiknya membayar lunas sebelum jatuh tempo karena jika hanya membayar jumlah minimal, artinya jumlah yang harus dilunasi bertambah dan waktunya makin banyak.
Misalkan seseorang berutang Rp 1 juta, lalu membayar minimalnya 10 persen setiap bulan, artinya yang bersangkutan baru bisa melunasi utangnya selama 29 bulan. “Masalah ini kadang diremehkan. Jika dibiarkan bertahun-tahun, akan menjadi masalah besar. Bahkan seseorang harus keluar dulu dari perusahaannya dan mendapat pesangon, baru bisa membayar utang dari pesangon itu,” jelas Eko.
Jadi, kata Eko, utang sebenarnya pengurang kekayaan kita. Utang hanya merupakan penambahan biaya, apalagi aset konsumtif. “Dan hak atas aset kita akan hilang, bila kita tak bisa membayar utang itu.  Seseorang membelimobil, yang diperoleh malah debt collector, dan asetnya malah hilang.
Namun Eko mengatakan, kita boleh berutang jika pengeluaran itu merupakankebutuhan yang mendesak. “Misalkan ada anggota keluarga yang sakit, tak ada tabungan, tidak ada penggantian,” ujarnya.
Eko menambahkan pula, kita boleh berutang asalkan mendapatkan aset yang produktif. Kalaupun tidak mendapatkan dalam bentuk tunai, tapi nilainya baik.  “Berutanglah untuk aset yang nilainya terus naik,  misalnya membeli properti atau emas,” katanya.
Kunci investasi 
Eko menjelaskan pula soal pentingnya berinvestasi untuk menjamin keuangan masa depan. Jika hanya menabung, jumlahnya bertambah dan nilainya bertambah, tapi nilainya masih di bawah inflasi. Sedangkan jika berinvestasi, jumlahnya bertambah, nilainya juga bertambah, tapi nilainya lebih tinggi dari inflasi.
Mempersiapkan keuangan di masa depan setelah pensiun sangat penting. Selama ini pensiunan hanya mempersiapkan dari tabungan, pesangon kantor, dan Jamsostek.
Lalu apa kunci investasi? Pertama, miliki tujuan. Kedua, sesuaikan dgn profil risiko. Ketiga, pilih produk yang tepat, Ini kadang tidak diperhatikan dengan benar.
Proteksi
Untuk melindungi diri dan keluarga, apakah Anda sudah mengikuti asuransi? Asuransi jiwa minimal harus bisa mengganti 100 bulan pengeluaran bulanan.
Tapi untuk asuransi kesehatan, jika biaya kesehatan ditanggung perusahaan, apakah masih perlu ikut asuransi kesehatan? “Ambillah yang dibutuhkan, bukan yang ditawarkan,” ingat Eko.
Lalu ikutilah juga asuransi kerugian untuk harta benda. Namun jika rumahberada di gunung, untuk apa rumah diasuransikan soal banjir?


Sumber : Selebonline.com

Rabu, 18 Januari 2012

Mengurangi Stres Dengan Bergosip

Kompas.com - Meski gosip bukanlah kebiasaan yang baik namun tak sedikit yang berpendapat gosip sebagai hal yang mengasyikkan. Malah, dalam studi terbaru disebutkan bergosip bisa mengurangi stres dan mencegah orang lain dipermainkan. Itu merupakan kesimpulan para peneliti dari Univesitas California, Berkeley, yang melakukan empat percobaan yang melibatkan ribuan partisipan. "Gosip memang punya reputasi buruk, tetapi kami menemukan bukti bahwa bergosip berperan penting dalam menjaga fungsi sosial," kata salah satu peneliti, psikolog sosial Robb Willer. Willer menemukan bergosip bisa menjadi semacam terapeutik. Ketika para partisipan studi melihat orang lain berlaku buruk, denyut jantung mereka meningkat. Tetapi peningkatan itu hanya dalam skala sedang jika mereka menceritakan pada orang lain apa yang mereka lihat. "Menyebarkan informasi tentang orang lain yang mereka lihat berperilaku buruk ternyata membuat seseorang merasa lebih baik, serta mengurangi rasa frustasi yang mendorong mereka bergosip," kata Willer. Bukan hanya itu, para peneliti juga menemukan bahwa partisipan studi juga rela mengeluarkan upaya ekstra untuk memberitahu orang lain siapa yang berlaku curang dalam sebuah simulasi permainan ekonomi. Dalam hal ini bergosip berarti mencegah orang lain dirugikan oleh orang yang curang tadi. "Kita tidak perlu merasa bersalah jika gosip yang kita sampaikan bertujuan untuk mencegah orang lain dipermainkan," kata Matthew Feinerg, ketua peneliti. Studi tentang kebiasaan bergosip pada tahun 2009 menemukan, sekitar 80 persen isi pembicaraan kita adalah gosip. Dalam studi yang melibatkan 300 orang itu juga ditemukan bahwa sekitar 5 persen gosip bersifat berbahaya.

Bagaimana cara menyembuhkan bau mulut?



Cara paling mudah untuk menghilangkan bau mulut selama berpuasa tentu saja rajin membersihkan gigi, terutama setelah makan sahur. Karena setelah 30 menit tak makan, keasaman mulut akan meningkat karena sisa asam tidak diangkat. Selain dengan menjaga kesehatan gigi dan mulut, berikut beberapa tips mengatasi bau mulut:

* Perbanyak konsumsi air putih.
* Perbanyak konsumsi buah-buahan pengusir bau mulut seperti apel, bengkuang dan wortel.
* Stop merokok dan minum alkohol.
* Periksa ke dokter gigi anda minimal enam bulan sekali.

Berikut cara tambahan untuk mengobati bau mulut secara alami:

Bahan:
- Cengkih (3-5 biji)
- Air (secukupnya)

Pemakaian:
Ambil 3-5 biji bunga cengkih. Seduh dengan air secukupnya kurang lebih 5 menit, lalu dinginkan. Gunakan air ini untuk berkumur.

Semoga semua tips untuk mengatasi dan menghilangkan bau mulut diatas bisa bermanfaat bagi kesehatananda yang mengalami bau mulut tidak sedap.

Jangan Minum Susu sambil minum obat

Kompas.com — Ada orang yang baru bisa menelan obat jika dibantu segelas teh manis atau susu. Padahal, cara ini akan membuat percuma obat yang dikonsumsi. Sebab, teh dan susu menghambat penyerapan komponen tertentu di dalam obat, misalnya zat besi dan antibiotika tetrasiklin.
Air putih paling netral untuk mengantarkan obat-obatan ke tubuh kita agar memperoleh manfaatnya. Jika ingin minum teh, kopi, atau susu, tunggu setidaknya satu jam setelah minum obat.
Sebaiknya minum obat juga tidak dilakukan segera setelah sarapan, tetapi tunggu sedikitnya satu jam. Jika malam biasa minum susu sebelum tidur, usahakan mengonsumsi obatnya satu jam sebelumnya.